PENERAPAN TEORI PSIKOLINGUISTIK DALAM PENGAJARAN BAHASA
PENERAPAN TEORI PSIKOLINGUISTIK DALAM PENGAJARAN BAHASA
Dalam pengajaran bahasa,
perlu diterapkan berbagai disiplin ilmu di samping ilmu linguistik terapan.
Mengingat juga berbagai persoalan yang timbul dalam pengajaran bahasa baik dari
segi proses belajar mengajar dan hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran
bahasa yang lain. Persoalan dalam pengajaran bahasa menjadi masalah atau hal
yang berat karena bertujuan untuk menuntaskan peserta didik agar dapat
berbahasa dengan baik dan benar. Untuk mencapai keberhasilan dalam pengajaran
bahasa guru maupun calon guru perlu berupaya dengan menerapkan berbagai ilmu
pendukung profesi.
Salah satu ilmu yang
berhubungan dengan bahasa maupun menunjang pengajaran bahasa adalah psikolinguistik. Sebab, di dalamnya
mengandung (1) ruang lingkup ilmu yang dapat dijangkau oleh manusia; (2) metode
untuk memperoleh dan menyusun pengetahuan; dan (3) pemanfaatan untuk kepentingan
dan kesejahteraan manusia.
Dalam penerapannya, implikasi
psikolinguistik yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa, meliputi: (1)
penerapan pisikolinguistik; (2) kurikulum; (3) guru; (4) peserta didik; (5) perencanaan pengajaran bahasa; (6) materi dan silabus; (7) evaluasi; dan (8) teori
pisikolinguistik dalam pembelajaran bahasa.
A. Penerapan
Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa
Psikolinguistik merupakan
ilmu yang menguraikan proses‑proses
psikologis yang terjadi apabila seseorang menghasilkan kalimat dan memahami
kalimat yang didengarnya waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa
itu diperoleh manusia. Psikolinguistik merupakan bidang studi yang
menghubungkan psikologi dengan linguistik. Tujuan utama seorang psikolinguis
ialah menemukan struktur dan proses yang melandasi kemampuan manusia untuk
berbicara dan memahami bahasa.
Psikolinguistik merupakan
ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia pada saat
mereka berbahasa. Secara rinci psikolinguistik mengkaji empat hal utama, yaitu:
1) komprehensi, yakni proses-proses
mental yang dilalui oleh manusi sehingga mereka dapat menangkap apa yang
dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud;
2) produksi, yakni proses-proses mental
pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan;
3) landasan biologis serta neurologis
yang membuat manusia bisa berbahasa;
4) pemerolehan bahasa, yakni bagaimana
seorang anak memperoleh bahasanya sendiri
Peserta didik adalah
subjek dalam pembelajaran. Dalam hal ini, siswa dianggap sebagai individu yang
beraktivitas untuk mencapai ranah-ranah psikologi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Kemampuan menggunakan bahasa yang baik secara reseptif (menyimak dan membaca) ataupun
produktif (berbicara dan menulis) melibatkan ketiga ranah tersebut. Dalam sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Garnham (Nababan & Utari, 1992: 60-61)
terhadap aktifitas berbicara ditemukan berbagai berbicara yang menyimpang
(keliru) yang disebabkan oleh kesalahan berbicara oleh penuturnya, diantaranya
adalah kesaratan beban (overloading),
yaitu perasaan waswas (menghadapi ujian atau pertemuan dengan orang yang
ditakuti) atau karena penutur kurang menguasai materi, terpengaruh oleh
perasaan afektif, kesukaran melafalkan kata-kata, dan kurang menguasai topik.
Dari penyebab kesalahan-kesalah tersebut di atas, dapat kita klasifikasikan berdasarkan ranah psikologi. Penyebab kesalahan berupa perasaan was-was berkaitan denga ranah afektif. Penyebab kesalahan berupa kurang menguasai materi atau topik berkaitan dengan ranah kognitif, dan penyebab kesalahan berupa kesukaran melafalkan kata berkaitan dengan ranah psikomotor. Contoh-contoh kesalahan dan penyebab kesalahan yang telah dijelaskan tadi menunjukkan bahwa peran psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa sangat penting.
Tujuan umum pembelajaran
bahasa adalah agar siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan
benar dalam berbahasa lisan maupun tulisan. Agar siswa dapat berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar, maka diperlukan pengetahuan akan kaidah-kaidah
bahasa. Kaidah-kaidah bahasa tersebut dapat dipelajari dalam linguistik. Untuk
dapat menggunakan bahasa secara lancar dan komunikatif siswa tidak hanya cukup
memahami kaidah bahasa saja, melainkan diperlukan kesiapan kognitif (penguasaan
kaidah bahasa dan materi yang akan disampaikan), afektif (tenang, yakin, percaya
diri, mampu mengeliminasi perasaan cemas, ragu-ragu, was-was, dan sebagainya),
serta psikomotor (lafal yang fasih, keterampilan memilihh kata, frasa, klausa,
dan kalimat). Dengan demikian, jelaslah bahwa betapa penting peranan
psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa.
Peran psikolinguistik dalalm
pembelajaran bahasa dirasa sangat penting karena dengan memahami
psikolinguistik, seorang guru dapat memahami proses yang terjadi dalam diri siswa
ketika siswa menyimak, berbicara, membaca, ataupun menulis sehingga manakala kemampuan
dalam keterampilan berbahasa bermasalah, maka guru dapat melihat dari sudut pandang
psikologi sebagai alternative solusinya.
1. Psikolinguistik
dan Kurikulum
Kurikulum berkembang sesuai
dengan perubahan dan perkembangan sumber daya manusia dan berisi deskripsi
secara luas mengenai tujuan-tujuan umum dengan menunjukkan filsafat pendidikan
dan budaya secara keseluruhan yang diterapkan untuk berbagai bidang studi,
dalam hubungan ini, disertai landasan teori tentang bahasa dan belajar bahasa.
Psikolinguistik
diimplementasikan pada mata pelajaran yang tercermin dalam butir-butir
kurikulum tersebut. Contohnya mata pelajaran pada aspek menyimak dan berbicara,
manakah yang harus didahulukan? Jika dilihat dari kacamata psikolinguistik,
tentunya aspek menyimak harus didahulukan baru kemudian pada aspek berbicara. Sebab
ketika bayi lahir, aspek menyimaklah yang memerlukan waktu lebih banyak sebelum
berbicara. Maka dapat dikatakan, menyimaklah sebagai manifestasi pertama dalam
keterampilan berbahasa.
2. Psikolinguistik
dan Guru
Guru harus memiliki
kompetensi agar dapat melaksanakan tugasnya dengan profesional, antara lain
dengan: (a) menguasai bahan; (b) mengelola program belajar mengajar; (c)
mengelola kelas; (d) menggunakan sumber/media; (e) menguasai landasan
kependidikan; (f) mengelola interaksi belajar mengajar; (g) menilai prestasi
siswa untuk kepentingan pengajaran; (h) mengenal fungsi dan program layanan
bimbingan konseling di sekolah; (i) mengenal dan menyelenggarakan adminstrasi
sekolah; dan (j) memahami prinsip dan menerapkan hasil penelitian pendidikan
untuk keperluan pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas,
salah satu syarat menjadi guru yang profesional adalah menguasai bahan
hubungannya dengan psikolinguistik, misalnya tuntutan untuk memahami dan
menerapakan teori akuisisi bahasa (teori behavior). Berdasar teori tersebut,
anak lahir tidak membawa potensi bahasa. Maka, guru harus dapat memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengalaman berbahasa yang
dipelajari dengan memberikan aktvitas dengan cara memberikan rangsangan. Guru
harus peka terhadap kondisi peserta didik, mengenai apakah bahan yang diajarkan
bermakna dan bernmanfaat dalam kehidupan peserta didik. Di samping itu, guru
juga harus mempertimbangkan faktor kesukaran bawaan, faktor hubungan bahasa
yang dipelajari bahasa ibu, dan faktor pengalaman belajar bahasa yang
dipelajari. Faktor tersebut berasal dari sisi linguistik (Saidtono, 1987; 17).
3. Psikolinguistik
dan Peserta Didik
Tugas guru membimbing dan
mengukuhkan aktivitas yang bermakna. Peserta didik diberi kesempatan untuk
mengembangkan kreativitasnya, peserta didik merupakan individu yang berpotensi
dan dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Berkaitan dengan
psikolinguistik, guru hendaknya memperhatikan tingkat kematangan peserta didik
dengan teori yang relevan. Karena setiap individu mempunyai kapasitas untuk
belajar bahasa yang berbeda. Misalnya teori akuisisi bahasa dan teori mentalis.
Anak lahir membawa potensi bahasa. Menurut Wilkins, 1972: 178, menerangkan
bahwa potensi bahasa berkembang apabila kematangan telah tiba. Tugas guru
menelusuri potensi bawaan itu, baik di dalam kelas, juga di luar kelas, seperti
ketika sedang melakukan karya wisata.
4. Psikolinguistik
dan Perencanaan Pengajaran Bahasa.
Berkaitan dengan
psikolinguistik, guru dapat menerapkan pendekatan dalam pengajaran bahasa dengan
melihat dari sisi peserta didik. Misalnya pendekatan yang bersifat dengan teori
tertentu, seperti behavioral atau mentalis. Semua upaya dalam menerapakn
pendekatan dapata mencapai tujuan yang optimal yaitu siswa dapat berbahasa
dengan baik dan benar.
Psikolinguistik yang di dalamnya
merangkum beberapa pendekatan, dapat membantu guru dalam membuat perencanaan
pengajaran yang apik untuk setiap pertemuan. Sehingga bertujuan akhir guru
dapat memprogram pengajaran bahasa sedemikian rupa.
5. Psikolinguistik
dalam Pemilihan Materi dan Penyusunan Silabi
Pemilihan materi harus
mempertimbangkan tingkat, mengacu pada tingkat kesukaran, tujuan (ketercapaian
instruksional), dan waktu (rentangan durasi yang dibutuhkan). Oleh karena itu,
psikolinguistik dapat diterapkan dalam pemilihan materi, dengan
mempertimbangkan, (a) tingkat kesukaran; (b) dapat diajarkan; (c) usia; (d)
sikap peserta didik; dan (e) kebergunaan. Materi yang sulit tentu akan sulit
diajarkan, dan peserta didik yang tingkatannya belum sesuai akan sulit
dimengerti serta tidak menarik karena materi itu asing dalam kehidupannya.
Dalam penyusunan silabi
(daftar butir pelajaran yang akan diajarkan, menurut Johnson dan Morrow Ed, (1981: 2) Psikolinguistik diterapkan untuk memilih jenis silabi dan pendekatan
yang digunakan dalam pengajaran bahasa.
Misalnya:
Ø
Silabi
nasional (penekanan ide dalam ujaran);
Ø
Silabi
fungsional (penekanan maksud komunikasi);
Ø
Silabi
komunikatif (penekanan segi komunikatif)
Menurut Suzanne (1983:
2-7) Pendekatan yang dapat diterapkan yaitu pendekatan berurutan, dan pendekatan
spiral. Contohnya dalam pengajaran ilmu linguitik, silabi harus berurutan dan materi
pun harus disusun berurutan mulai dari pengajaran fonologi, morfologi,
sintaksis, dan seterusnya.
Pendekatan berurutan mempersyaratkan urutan
materi menurut garis materi yang diberikan dan tidak akan diulang pada
pertemuan-pertemuan berikutnya melainkan ada hubungan pembahasan antara
materi-materi yang disampaikan per tiap pertemuan. Sehingga terjadi perluasan
dan pendalaman materi. Dilihat dari kacamata psikolinguistik pendekatan spiral
baik digunakan karena peserta didik tidak terlalu dibebani dengan bahan yang
belum sesuai dengan tingkat kematangan dan dapat mengulangi pembahasan yang
pernah diperolehnya tetapi juga sudah lebih meluas dan mendalaminya.
6. Psikolinguistik
dalam Penilaian
Menilai adalah mengukur
keterampilan seseorang dalam rentangan program instruksional sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai. Alat yang digunakan untuk menilai misalnya tes. Dalam
hal ini, psikolinguistik berperan dalam penilaian. Contohnya: dalam penilaian
harus memperhatiakan: (a) peserta didik; (b) bahan yang diujikan; dan (c) kapan
penilaian akan dilakasanakan .
Hal yang berhubungan
dengan peserta didik misalnya: usia, latar belakang, dan sosial ekonomi. Hal
yang berhubungan dengan bahan, misalnya tingkat kesukarannya, kapan penilaian
dilaksanakan, apakah setelah mempelajari satu unit pelajaran, atau setelah
keseluruhan unit dipelajari, atau apakah peserta didik dalam keadaan lelah. Berdasar
aspek yang dinilai,menurut segi psikolinguistik aspek kognitif memperoleh porsi
yang banyak (di dalamnya mencakupi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis,
sintesis, evaluasi). Guru harus melaksanakan program pengajaran dari hal-hal
yang teyang telah diuraikan sebelumnya dengan apik, baik secara lisan maupun
tertulis.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer Abdul. (2009). Psikolinguitik; Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo Soenjono. (2014). Psikolinguistik; Pengantar Pemahaman Bahasa
Manusia. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia.
Harras A. Kholid & Bachari D.
Andika. (2009). Dasar-Dasar
Psikolinguistik. Bandung: UPI Press.
Hamied, Fuad Abdul. (1987). Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta:
Depdikbud. Clarck, Herbert & Eve V. Clark. (1977). Psychology and Language: an Introduction to Psycholinguistics. New
York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Subyantoro. (2012). Psikolinguistik; Kajian Teoretis dan Implementasinya. Semarang: UNNES Press.
Subyakto Nababan & Sri Utari. (1992). Psikolinguistik; Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.
Sudjana, Nana. (1990). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.

Komentar
Posting Komentar