TEORI NATURE DAN NURTURE DALAM PEMEROLEHAN BAHASA
TEORI NATURE DAN NURTURE DALAM PEMEROLEHAN BAHASA
Pemerolehan bahasa dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan faktor alam sekitar (nurture). Keduanya saling terkait dan saling mendukung dalam upaya pemerolehan bahasa manusia. Nature diperlukan karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin dapat berbahasa. Nurture juga diperlukan karena tanpa adanya input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud. Oleh karena itu, semua jenis usaha dalam membina pemerolehan bahasa, harus memperhatikan kedua unsur yang saling melengkapi tersebut.
Manusia di mana pun juga pasti akan dapat menguasai, atau lebih tepatnya memperoleh bahasa asalkan dia tumbuh dalam suatu masyarakat (Dardjowidjojo, 2008: 234).
Aliran Behaviorisme yang dipelopori oleh Skinner mengatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture, yakni pemerolehan bahasa ditentukan oleh alam sekitar. Menurut aliran tersebut, manusia dilahirkan dengan suatu tabula rasa, yakni semacam piring kosong tanpa apa pun. Piring ini kemudian diisi oleh alam sekitar kita, termasuk bahasanya. Jadi, pengetahuan apa pun yang kemudian diperoleh oleh manusia itu semata-mata berasal dari lingkungannya. Skinner melakukan percobaan pada seekor tikus, bagaimana seekor tikus akhirnya dapat memperoleh pengetahuan melalui proses yang dinamakan operant conditioning atau biasa disebut stimulus-respon, Dari penelitian tersebut, Skinner menyimpulkan bahwa pemerolehan pengetahuan, termasuk pengetahuan pemakaian bahasa didasarkan pada adanya stimulus, kemudian diikuti respon.
Teori behaviorisme ini menggunakan penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sering disebut dengan reward atau ganjaran. Penguatan negatif sering disebut punishment atau hukuman. Bila respon tersebut benar maka berhak mendapatkan reward atau hadiah, sebaliknya jika respon tersebut salah maka akan mendapatkan hukuman.
Pada tahun 1959 Chomsky menulis resensi yang secara tajam menyerang teori Skinner. Pada dasarnya, Chomsky berpandangan bahwa pemerolehan bahasa itu bukan didasarkan pada nurture tetapi nature. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, tabularasa, tetapi dia telah dibekali dengan sebuah alat yang dinamakan Piranti Pemerolehan Bahasa atau Language Acquisition Device (LAD) yang berfungsi untuk memungkinkan seorang kanak-kanak memperoleh bahasa ibunya (Chaer, 2008: 169). Piranti tersebut bersifat universal, artinya anak mana pun memiliki piranti ini. Ini terbukti dengan adanya kesamaan antara satu anak dengan anak yang lain dalam proses pemerolehan bahasa mereka. Nurture yakni, masukan yang berupa bahasa hanya akan menentukan bahasa mana yang akan diperoleh anak, tetapi prosesnya itu sendiri bersifat kodrati (innate) dan inner-directed (Chomsky, 1992: 41).
Menurut Chomsky bahasa bukan suatu kebiasaan tetapi suatu sistem yang diatur oleh seperangkat peraturan (rule-governed). Bahasa juga kreatif dan memiliki ketergantungan struktur. Kedua kodrat bahasa ini hanya dapat dimiliki oleh manusia.
Dari gambaran di atas tampak bahwa baik nature maupun nurture diperlukan untuk pemerolehan bahasa. Nature diperlukan karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak dapat berbahasa. Nurture juga diperlukan karena tanpa adanya input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Rineka Cipta: Jakarta.
Chomsky, Noam. 1992. Language and Problems of Knowledge. London: The MIT Press.
Darjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.
Tugas Mandiri
1. Apa perbedaan antara nurture dan nature dalam perkembangan bahasa? Jelaskan!
2. Menurut Anda, teori manakah yang lebih logika, teori Skinner atau teori Chomsky? Berikan alasannya.
3. Bagaimana kontribusi nature dan nurture dalam psikolinguistik? Jelaskan!

Komentar
Posting Komentar