KELAINAN BERBAHASA PADA ANAK
KELAINAN BERBAHASA PADA ANAK
A.
Gangguan Berbahasa
Berbahasa merupakan sebuah
kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia, karena berbahasa merupakan
kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Pada hakikatnya berbahasa
merupakan suatu kegiatan alamiah yang sama halnya dengan bernapas yang kita
tidak memikirkannya. Akan tetapi, bila kita pikirkan seandainya kita tidak
berbahasa, dan kita tidak melakukan tindak berbahasa, maka identitas kita
sebagai “genus manusia” (homosapiens) akan hilang karena bahasa mencerminkan
“kemanusiaan”. Yang paling membedakan kita dari makhluk lain ialah bahwa kita
mempunyai bahasa (Indah, 2017:4).
Dalam hal ini tentunya
merupakan kerugian yang sangat besar apabila manusia tidak dapat berbahasa
dengan baik, karena manusia telah dikarunia Language Acquisition Device (LAD)
atau piranti kebahasaan oleh sang pencipta. Apabila kita berbicara mengenai LAD
maka, kita berbicara mengenai teori nativisme yang dipelopori Chomsky. Setiap
manusia memiliki bakat untuk berbahasa. Pendapat ini bertentangan dengan teori
behaviorisme Watson yang mengatakan bahwa manusia dapat berbahasa akibat adanya
stimulus dan respon (Simanjuntak, 1987:160). Namun kalau kita amati dengan
saksama kita akan dapat memadukan kedua teori tersebut dalam berbahasa. Ada
seseorang yang memiliki bakat untuk mengembangan bahasa artinya memiliki
piranti kebahasaan yang lengkap, namun tidak ada stimulus dan respon berupa
bahasa, maka seseorang tersebut akan memiliki gangguan berbahasa.
Menurut Natsir (2017:22)
bahwa pembelajaran bahasa, sebagai salah satu masalah kompleks manusia,
kegiatan berbahasa itu bukan hanya berlangsung secara mekanistik, tetapi juga
berlangsung secara mentalistik. Artinya, kegiatan berbahasa itu berkaitan juga
dengan proses atau kegiatan mental (otak). Manusia yang normal fungsi otak dan
alat bicaranya tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki
kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam
berbahasa, baik produktif maupun reseptif. Jadi, kemampuan berbahasa terganggu.
Gangguan berbahasa
merupakan salah satu fokus pembahasan dalam Psikolinguistik. Gangguan-gangguan
berbahasa tersebut sebenarnya akan sangat mempengaruhi proses berkomunikasi dan
berbahasa. Banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan adanya gangguan
berbahasa, kemudian faktor-faktor tersebut akan menimbulkan gangguan berbahasa.
Secara medis menurut Chaer (2009) gangguan berbahasa itu dapat dibedakan atas
tiga golongan, yaitu (1) gangguan berbicara; (2) gangguan berbahasa; dan (3)
gangguan berpikir. Ketiga gangguan itu masih dapat diatasi kalau penderita
gangguan itu mempunyai daya dengar yang normal; jika tidak, maka akan menjadi
sukar atau bahkan sangat sukar.
Manusia yang memiliki
fungsi otak dan alat bicara yang normal akan bisa berbahasa dengan baik. Sebaliknya,
mereka yang memiliki gangguan fungsi otak dan alat bicara akan memiliki
hambatan dalam berbahasa yang sifatnya memproduksi bahasa (productive) atau menerima bahasa (reseptif). Secara umum gangguan
berbahasa dapat dibagi dua.
1.
Gangguan
berbahasa karena faktor medis, yaitu gangguan yang diakibatkan oleh kelainan
fungsi otak maupun adanya disfungsi alat bicara.
2.
Gangguan
berbahasa karena faktor lingkungan sosial yaitu adanya gangguan berbahasa yang
diakibatkan oleh lingkungan sosial dimana seorang individu tinggal, misalnya
gangguan yang disebabkan karena terpinggirkan dari interaksi lingkungan manusia
sehingga individu yang bersangkutan tidak mendapatkan input bahasa sama sekali.
B. Jenis
Gangguan Berbahasa pada Anak-anak
Ada berbagai macam
gangguan berbicara pada anak-anak. Beberapa gangguan ini bisa dideteksi sejak
dini sehingga hal ini tentunya akn memudahkan para orang tua untuk mencari
solusi untuk menangani gangguan tersebut.
1.
Spektrum
Autisme (ASD = Autism Spectrum Disorder)
2.
Aprakasia
Lisan
3.
Disleksia
4.
Speech
Delayed (lambat bicara)
C. Penyebab
Gangguan Berbahasa pada Anak
Gangguan berbahasa atau
berkomunikasi pada umumnya dapat dikategorikan sebagai berikut.
1.
Gangguan
berbicara yang disebabkan:
a.
Masalah
artikulasi
b.
Gangguan
bersuara
c.
Masalah
kefasihan
d.
Afasia
karena ketidaksempurnaan perkembangan otak
e.
Keterlambatan
berbicara yang dapat dipicu faktor lingkungan, gangguan pendengaran atau
gangguan tumbuh kembang.
2.
Gangguan
akibat kondisi tertentu seperti:
a.
Kesulitan
belajar yang dapat menjadi sebab maupun akibat gangguan bahasa.
b.
Serebral palsy atau lumpuh otak
c.
Retardasi atau keterbelakangan mental
D. Upaya
Menangani Gangguan Berbahasa pada Anak
Pada umumnya terdapat
beberapa cara menangani gangguan berbahasa pada anak yaitu:
1.
Ajak berbicara. Seringkali beberapa orang merasa
bahwa mengajak ngobrol atau berbicara anak tidak akan ada gunanya, terutama
untuk mereka yang mengalami perkembangan bahasa pada anak. Padahal mengajak
anak berbicara jelas menjadi salah satu terapi yang mudah digunakan untuk
menghilangkan gangguan perkembangan bahasa. Biasanya ibu dan ayah menjadi
panutan ketika mereka berbicara. Usahakan setiap berbicara dengan mereka
gunakan bahasa yang baik dan tentu saja benar, selain itu gunakan pengucapan
yang jelas agar mereka bisa memahami dan mengerti pembicaraan apa yang sudah
dilakukan.
2.
Bernyanyi. Anak-anak lebih senang jika mereka
mendengar musik meskipun mereka belum bisa berbicara. Untuk itu bernyanyi bisa
jadi cara yang paling mudah untuk dilakukan dan juga disenangi anakanak.
Bernyanyi tidak terasa memaksa pada anak yang mengalami perkembangan khususnya
pada bahasa, semua orang tua pasti senang menyanyikan berbagai lagu untuk
anaknya. Usahakan untuk bernyanyi lagu anak-anak, kemudian jangan lelah
mengajak anak untuk ikut mengucapkan meskipun bahasanya belum benar dan masih
kesulitan. Hal tersebut bisa menjadi stimulan dan bisa dilakukan dimana saja,
nyanyikan secara ceria agar mereka terus mengingat. Bahkan anda bisa
mengkombinasikannya dengan film anakanak.
3.
Ulang kata yang anak pelajari. Mengulang kata bisa menjadi
alternatif mengatasi gangguan bahasa pada anak. Misalnya anak baru bisa
mengakan makan atau minum, maka ulangi sekali lagi bahasa yang mereka ucapkan
untuk memastikan mengenai usaha mereka. secara tidak langsung hal seperti ini
menjadi metode assesmen dalam psikologi
anak untuk bisa belajar dan terbiasa diuji. Hal seperti ini melatih anak
untuk mengatakan bahasa dan kosakata yang benar. Jika rajin maka semakin hari
akan semakin banyak meskipun harus melewati proses yang panjang. Biasanya
dengan mengulangi kata atau bahasa yang anak pelajari maka anak akan merasa
dihargai dan merasa diperhatikan usahanya. Terutama jika maksud yang ia
sampaikan bisa kita mengerti dan benar.
4.
Terapi. Jika memang masalah perkembangan
bahasa anak sudah diketahui maka tidak ada hal yang bisa dipertahankan selain
memberikan terapi yang tepat untuk anak. Seringkali beberapa orang menghindari
terapi karena mereka gengsi dan tidak menginginkan anaknya seperti bermasalah
atau mengalami gangguan. Padahal jika ditunda atau diperlambat yang ada hanya
menimbulkan masalah untuk anak-anak dan semakin lama bisa semakin parah. Jika
sudah sepert ini siapa yang akan tanggung jawab ataupun menanggungnya? jelas
anak kita sendiri yang harus mengalami keburukannya. Hindari gengsi dan
periksakan ke dokter, jika memang harus terapi jalani agar perkembangan anak
semakin baik.
5.
Pemeriksaan rutin. Gangguan perkembangan bahasa pada
anak merupakan hal yang terjadi pada beberapa anak, dimana perkembangan mereka
tidak terlalu baik dan terkendala karena banyak faktor. Untuk itu anda bisa
melakukan pemeriksaan rutin, tujuan utamanya bukan karena orang tua merasa
panik jika ada kejadian seperti itu. Sebagian masalah gangguan perkembangan
bahasa didasarkan pada alasan yang tidak terlalu menakutkan dan anak-anak mulai
bisa belajar bicara. Namun sebagai orang awam ada beberapa hal yang tidak bisa
dideteksi dan mengharuskan pemeriksaan lengkap agar bisa mendeteksi masalahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian
Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Indah.
2017. Gangguan Berbahasa. UIN: Maliki
Press.
Natsir.
2017. Hubungan Psikolinguistik dalam
Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa. STIA YAPPI: Makassar
Simanjuntak.
1987. Pengantar Psikolinguistik Modern.
Kuala Lumpur: Kementerian Pelajaran Malaysia.

Komentar
Posting Komentar