BAHASA DAN PIKIRAN
BAHASA DAN PIKIRAN
Bahasa merupakan sebuah struktur yang unik yang hanya dimiliki manusia dan binatang. Pikiran dan bahasa adalah satu dan bersifat nurani; sudah ada di dalam otak begitu manusia dilahirkan. Worf dan Sapir memaparkan keterkaitan antara bahasa dan pikiran dimungkinkan karena berpikir adalah upaya untuk mengasosiasikan kata atau konsep untuk mendapatkan satu kesimpulan melalui media bahasa. Kata-kata adalah bentuk pemberian pakaian pada realita faktual yang terjadi secara nyata. Bahasa yang diwujudkan dalam kata-kata adalah representasi realitas.
Setiap budaya memiliki cara tersendiri dalam memilih satu wilayah tertentu dari keseluruhan realitas untuk diwujudkan dalam kata-kata. Ketika bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan maka yang tercipta adalah kepribadian. Pada awalnya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.
A. Hubungan Bahasa dan Pikiran
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu di dalamnya, yaitu segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu, memahami bahasa akan memungkinkan untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak dimana objek-objek faktual ditransformasikan, maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Suriasumantri, 1988).
Bahasa merupakan sebuah struktur yang unik yang hanya dimiliki manusia dan membedakannya dari binatang. Pemilikan bahasa oleh manusia membuatnya menjadi mahkluk yang dapat berpikir, tanpa bahasa manusia itu sama saja dengan binatang: tidak dapat berpikir. Bahasa dan pikiran tidak bisa dipisahkan, yang satu tidak mungkin ada tanpa yang satu lagi. Pada umumnya para ilmuan berpendapat, bahwa bahasa itu adalah pikiran dan pikiran itu adalah bahasa. Pikiran dan bahasa adalah satu dan bersifat nurani: sudah ada di dalam otak begitu manusia dilahirkan (Simanjuntak, 2008). Ernst Cassier menyebut manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang menggunakan simbol. Secara generik ungkapan ini lebih luas dari pada sekedar homo sapiens. Bagi Cassier, keunikan manusia sebenarnya bukanlah sekadar terletak pada kemampuannya berbahasa. Seorang filosof kenamaan, H.G. Gadamer, menyatakan bahwa status manusia tidak dapat melakukan apa-apa tanpa menggunakan bahasa. Dalam satu pernyataannya yang terkenal, secara jelas pula seorang filosof bahasa, Ludwig Van Wittgeinstein, mengatakan bahwa batas dunia manusia adalah bahasa mereka (Sumaryono, 1993).
Sebuah uraian yang cukup menarik mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikir dinyatakan oleb Whorf dan Saphir. Whorf dan Saphir melihat bahwa pikiran manusia ditentukan oleh sistem klasifikasi dari bahasa tertentu yang digunakan manusia (Schlenker, 2004). Menurut hipotesis ini, dunia mental orang Indonesia berbeda dengan dunia mental orang Inggris karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Hubungan antara bahasa dan pikiran adalah sebuah tema yang sangat menantang dalam dunia neuropsikolinguistik. Sejarah kajian ini dapat ditilik dari psikolog kognitif, filosof dan ahli linguistik. Beberapa aspek bahasan yang mempengaruhi pikiran perlu diidentifikasi lebih lanjut, misalnya identifikasi aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran ruang bidang (reasoning spatial) dan aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran terhadap pikiran lain (reasoning about other minds).
B. Konsep Beberapa Ahli tentang Bahasa dan Pikiran.
Beberapa ahli mencoba memaparkan hubungan antara bahasa dan pikiran, atau lebih sempit lagi, bahasa mempengaruhi pikiran. Beberapa ahli tersebut antara lain Von Humbolt, Edward Saphir, Benyamin Whorf dan Ernst Cassier. Dari keempat tokoh tersebut hanya Edward Saphir dan Benyamin Whorf yang banyak dikutip oleh berbagai peneliti.
Saphir dan Worf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki kesamaan untuk dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Worf menguraikan dua hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran.
1. Hipotesis pertama adalah linguistic relativity hypothesis yang menyatakan bahwa perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan kognitif nonbahasa (nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa menyebabkan perbedaan pikiran orang yang menggunakan bahasa tersebut.
2. Hipotesis kedua adalah linguistics determinism yang menyatakan bahwa stuktur bahasa mempengaruhi cara individu mempersepsi dan menalar dunia perceptual. Dengan kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada dalam bahasa.
Pengaruh bahasa terhadap pikiran dapat terjadi melalui habituasi dan melalui aspek formal bahasa, misalnya grammar dan leksikon. Whorf mengatakan “grammatical and lexicon resources of individual languages heavily constrain the conceptual representations available to their speaker”. Grammar dan leksikon dalam sebuah bahasa menjadi penentu representasi konseptual yang ada dalam pengguna bahasa tersebut. Selain habituasi dan aspek formal bahasa, salah satu aspek yang dominan dalam konsep Whorf dan Sapir adalah masalah bahasa mempengaruhi kategorisasi dalam persepsi manusia yang akan menjadi premis dalam berpikir, seperti apa yang dikatakan oleh Whorf berikut ini:
“Kita membelah alam dengan garis yang dibuat oleh bahasa native kita. Kategori dan tipe yang kita isolasi dan dunia fenomena tidak dapat kita Temui karena semua fenomena tersebut tertangkap oleh tiap observer. Secara kontras, dunia mempresentasikan sebuah kaleidoscopic flux yang penuh impresi yang dikategorikan oleh pikiran kita, dan ini adalah system bahasa yang ada di pikiran kita. Kita membelah alam, mengorganisasikannya ke dalam konsep, memilah unsur-unsur yang penting... (Whorf dalam Chander, 2000).
Untuk memperkuat hipotesisnya, Whorf dan Sapir memaparkan beberapa contoh. Salah satu contoh yang diambil adalah kata salju. Whorf mengatakan bahwa sebagian besar manusia memiliki kata yang sama untuk menggambarkan salju. Salju yang baru saja turun dari langit, salju yang sudah mengeras atau salju yang meleleh, semua objek salju tersebut tetap dinamakan salju. Berbeda dengan kebanyakan masyarakat, orang Eskimo memberi label yang berbeda pada objek salju tersebut. Uraian tersebut kemudian disanggah oleh Pinker (dalam Sclenker, 2004) yang mengatakan bahwa pikiran orang Eskimo tidak berbeda dengan pikiran orang.
Bahasa bagi Whorf pemandu realitas social. Walaupun bahasa biasanya tidak diminati oleh ilmuan sosial, bahasa secara kuat mengkondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Individu tidak hidup dalam dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi sangat ditentukan oleh bahasa tertentu yang menjadi medium pernyataan bagi rnasyarakatnya. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk mewakili realitas yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagat dunia yang sama akan tetapi dengan karakteristik yang berbeda. Singkat kata, dapat disimpulkan bahwa pandangan manusia tentang dunia dibentuk oleh bahasa sehingga karena bahasa berbeda maka pandangan tentang duniapun berbeda. Secara selektif individu menyaring sensori yag masuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensori pula (Rahmat, 1999).
DAFTAR PUSTAKA
Rahkmat, J. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya
Simanjuntak, Mangantar. 2008. Pengantar Neuropsikolinguistik. Medan: USU.
Sumaryono, H. 1993. Hermeneutik. Yogyakarta: Kasinius.
Suriasumantri, J. 1988. Ilmu dalam Perspetif . Jakarta: Yayasan Obor
TUGAS MANDIRI
1. Apa yang dimaksud dengan bahasa dan berbahasa dalam kajian psikolinguistik?
2. Apa yang dimaksud dengan bahasa dan pikiran?
3. Apakah bahasa dan pikiran saling mempengaruhi?
4. Manakah yang lebih dulu, bahasa atau pikiran?
5. Mengapa bahasa secara kuat dapat mengkondisikan pikiran individu? Jelaskan!

Komentar
Posting Komentar