PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
Perkembangan bahasa merupakan salah
satu aspek milestone anak yang perlu diperhatikan orang tua. Bahasa adalah alat
komunikasi yang digunakan untuk berpikir, mengekspresikan perasaan, dan
menerima pikiran dan perasaan orang lain. Keterampilan ini menjadi modal utama
untuk si Kecil bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya sampai ia dewasa nanti.
Perkembangan bahasa adalah proses
yang mencakup kemampuan untuk berkomunikasi secara dua arah dan memahami ucapan
lawan bicaranya sesuai tahapan usia anak. Keterampilan berbahasa sangat
berkaitan erat dengan pertumbuhan dan perkembangan otak anak
Kemampuan bahasa sendiri terbagi
menjadi dua, yaitu reseptif dan ekspresif. Kemampuan reseptif adalah kemampuan
memahami bahasa dan suara, misalnya anak mampu menggabungkan dua sampai tiga
kata. Sedangkan kemampuan bahasa ekspresif adalah kemampuan
menggunakan kata dan gerak tubuh secara bersamaan untuk mengomunikasikan
sesuatu. Contohnya, ketika anak bicara dengan celoteh panjang yang tidak bisa
dipahami, tapi ia mampu menirukan irama, ritme, dan gestur pembicaraan orang
dewasa.
Walau begitu, tahapan perkembangan bahasa tiap anak tentu berbeda-beda. Bahkan, umumnya anak perempuan mengalami perkembangan bahasa yang lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh banyak aspek. Maka itu, perlu dipahami bahwa tiap anak itu unik dan memiliki cara berkembangnya sendiri.
A. Periode Pralinguistik (0-1 tahun)
Selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi menangis, mendengkur,
menjerit, dan tertawa. Tahapan meraban ini dialami oleh anak yang berusia 0-5
bulan. Pembagian kelompok usia ini sifatnya umum dan tidak berlaku persis
seperti anak. Pada tahap ini, anak mulai meraban (mengoceh) dengan suara
melodis. Pada tahap ini, perkembangan bahasa anak yang paling mencolok adalah
perkembangan comprehension/penggunaan bahasa secara pasif. Marat
(Madyawati,2017:63) komprehensi merupakan elemen bahasa yang dikuasai terlebih dahulu
oleh anak sebelum anak dapat memproduksi apapun yang bermakna. (2017:63)
Bila anak mulai aktif, artinya
tidak sepasif waktu anak berada pada tahap meraban pertama. Secara fisik anak
sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda
atau menunjuk. Berkomunikasi dengan anak mulai mengasyikkan karena anak mulai
aktif mulai komunikasi.
Tahapan perkembangan bahasa anak usia dini yang pertama dimulai dari si Kecil baru lahir hingga memasuki usia 12 bulan. Sebetulnya, bayi sudah dapat berkomunikasi sejak lahir walaupun masih dalam bentuk tangisan. Bayi baru lahir sampai ia berusia di bawah 6 bulan sudah bisa paham apa yang Mama ucapkan padanya. Jadi, bila orangtuanya bersuara atau membunyikan benda bersuara di dekat si Kecil, ia akan langsung menoleh ke arah sumber suara atau sumber bunyi tersebut.
Ia juga sudah bisa merespon suara ibunya dan menunjukkannya dengan memberikan ekspresi tertentu kepada lawan bicaranya,
entah itu senang, sedih, kecewa, atau takut. Lalu, menginjak usia 6 bulan orang tua mungkin akan sering mendengarnya mengeluarkan
kata-kata, seperti “ma-ma-ma-ma”, “ba-ba-ba-ba”, “da-da-da-da” atau
“mi-mi-mi”.
Namun, ini tidak dihitung bahwa bayi
bisa bicara karena di usia awal ini ucapan anak belum memiliki makna
dan ia juga belum mengerti apa yang ia ucapkan.
Pada usia 7-12 bulan, si Kecil akan
mulai lebih sering berceloteh. Sekarang anak sudah bisa memahami kata-kata
sederhana, seperti “tidak” atau “stop”. Di usia ini pula si Kecil akan mulai
mengucapkan beberapa kata pertama, seperti Mama atau nama panggilan kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak juga mulai memahami dan
melakukan perintah sederhana, seperti “Ayo, tepuk tangan!” atau “Dadah-nya
mana?” Jika melihat Mama atau Papanya, ia mungkin akan mengucapkan “Ayah” atau
“Ma-ma, ma-ma” untuk Mama.
Selain itu, si Kecil sudah bisa
menggunakan gestur tubuhnya untuk berkomunikasi, bahkan menyebut ujung sebuah
kata walaupun masih sulit mengucapkannya dengan sempurna.
Sebagai contoh, si Kecil menyebut
“Cing” yang berarti “kucing”, “Cak” yang berarti cicak, “Guk” yang berarti
“anjing” (guguk).
B. Perkembangan Bahasa Anak Usia 1-5 Tahun (Periode Linguitik)
Bagaimana
Tahap Perkembangan Bahasa Anak Usia 1-5 Tahun?
Aspek perkembangan bahasa anak usia
1-5 tahun cukup kompleks dan fasenya berbeda-beda pada setiap anak. Oleh karena
itu, orang tua harus mengenali tahap perkembangan bahasa anak usia dini agar bisa
memantau perkembangannya dengan baik.
Beberapa tahap perkembangan bahasa anak usia dini.
1. Anak Usia 1 - 2 Tahun
Perkembangan bahasa anak usia 1-2 tahun mulai mengalami perkembangan. Di rentang usia ini, si Kecil sudah bisa mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Jadi, janget kaget, kalau buah hati mulai bisa mengikuti atau meniru apa yang diucapkan oleh orang tuanya. Untuk itu, sebaiknya orang tua dan anggota keluarga lainnya perlu berhati-hati dalam bertutur kata.
Koleksi kosakata anak sudah
meningkat secara signifikan, yakni 50 kata atau lebih, pada rentang usia 19-24
bulan. Si Kecil mampu memahami kata-kata tunggal atau sederhana, serta mampu
memproduksi kata-kata tersebut. Ia sudah bisa berbicara secara jelas walaupun
hanya baru mengucapkan frasa atau kalimat pendek.
Tak hanya itu, anak sudah bisa
menyebutkan bagian-bagian anggota tubuh, seperti hidung, tangan, mata, dan
telinga, juga warna benda, dan orang-orang yang dikenal atau sering kali
dilihatnya sehari-hari.
Lebih lanjut, dalam tahap
perkembangan bahasa pada anak usia 1-2 tahun, si Kecil mampu memahami makna di
balik kalimat-kalimat perintah sederhana, seperti kata tepuk tangan dan ambil
mainan.
Beberapa ahli mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak akan terjadi secara signifikan pada usia 19-20 bulan. Ini karena si Kecil dapat mempelajari beberapa kata-kata baru dalam sehari. Maka itu, pastikan Mama mempersiapkan si Kecil untuk mempelajari kata-kata sederhana pada usia ini.
2. Anak Usia 2 - 3 Tahun
Bagaimana perkembangan bahasa anak
pada usia ini? Memasuki usia 2-3 tahun, si Kecil sudah mampu memahami kata-kata
sederhana sebanyak tiga kata atau lebih, seperti “main”, “pergi, “jatuh”.
Bahkan, ia sudah bisa mengatakan kalimat sederhana, seperti “Papa pulang”, “Aku
senang”.
Tahapan perkembangan bahasa anak di
usia 2 tahun juga dapat dilihat dari kemampuannya dalam memahami kata tanya,
“siapa,” “apa”, dan “di mana”. Meski begitu, si Kecil belum bisa menjawab
pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Ia juga mulai menggunakan kata
kepunyaan di usia 2 tahun, dan mulai memahami makna “milikku” dan “milikmu”
pada tahun ketiga kehidupannya.
Di usia ini pula, si Kecil sudah mampu mengingat nama orang tua, keluarga, hingga nama binatang peliharaannya.
3. Anak Usia 3 - 4 Tahun
Menginjak usia 3 tahun sampai 4
tahun, si Kecil sudah bisa diajak berkomunikasi dan bersosialisasi. Hal ini
ditandai dengan kemampuan bahasa anak yang sudah makin membaik dan pemahaman
kosakatanya yang semakin luas.
Ia sudah bisa mengenal 250 kata atau
lebih, berbicara dengan kalimat sederhana yang berisi 3-4 kata, hingga
mengingat nama temannya di sekolah.
Ketika sudah bersosialisasi dengan teman sekitar, si Kecil akan mulai mempertanyakan banyak hal kepada orang tuanya, khususnya mamanya. Ini karena rasa penasarannya semakin tinggi terhadap sesuatu hal. Oleh karena itu, orang tua harus sabar menjawab setiap pertanyaan yang ada agar rasa ingin tahu si Kecil tidak berkurang seiring berjalannya waktu. Di usia ini pula, si Kecil juga mulai bisa meminta sesuatu pada orang tuanya.
4. Anak Usia 4 - 5 Tahun
Memasuki usia 4 tahun menuju 5 tahun, tahapan perkembangan bahasa anak semakin baik, dilihat dari pelafalan dan pengucapan yang sudah sangat jelas. Anak sudah bisa membedakan banyak warna dan bentuk benda. Sebagian kecil anak pada usia 4-5 tahun sudah bisa memberikan opini terhadap suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, hingga memberikan saran. Ia juga mulai senang bercerita dan mampu menjawab pertanyaan tentang apa yang ia ceritakan. Kalimat yang dibuatnya semakin lengkap, memiliki subjek, predikat, dan keterangan yang tepat.
C. Cara Stimulasi Kemampuan Bahasa Anak
Perlu diingat, perkembangan bahasa anak antara yang satu dan lainnya tentu berbeda-beda. Jadi, kemampuan bahasa anak yang dijelaskan di atas hanyalah berfungsi sebagai panduan, tapi bukan jadi sesuatu yang harus dimiliki setiap anak pada usia ini. Maka itu, di sinilah tugas Mama dan Papa untuk mengoptimalkan perkembangan anak. Selain melakukan permainan edukasi dan mendengarkan lagu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menstimulasi kemampuan bahasa anak, yakni:
1. Stimulasi Anak Usia 0 - 12 Bulan
Salah satu cara melatih anak berbicara tentu saja dengan rutin mengajaknya ngobrol. Sebetulnya, langkah ini sudah bisa dilakukan sejak bayi baru lahir. Hanya karena anak belum bisa bicara, bukan berarti ia belum mengerti apa yang dimaksud orangtuanya. Padahal, semakin banyak orang tua berbicara dan mengekspresikan diri, semakin mudah bagi anak untuk belajar bicara dan berinteraksi. Untuk itu, orang tua bisa mengajaknya berbicara kapan pun dan di mana pun, seperti tiap kali menyiapkan dan memberikan makan, memandikan, memakaikan pakaian, mengganti popok, serta kegiatan sehari-hari lainnya.
2. Stimulasi Anak Usia 1 - 2 Tahun
Menghindari penggunaan bahasa bayi saat berbicara dengan anak juga bisa menjadi cara menstimulasi kemampuan bahasa anak usia 1-2 tahun. Jadi, bila si Kecil menggunakan bahasa bayi yang salah, orang tua jangan merasa perlu mengoreksinya. Cukup tanggapi dengan penggunaan kata yang tepat.
Selain itu, di usia ini ia mungkin masih mengandalkan gestur tubuhnya untuk berkomunikasi. Ketika anak sulit mengatakan apa yang diinginkan, ia akan menunjuknya. Sebagai contoh, ia sangat rewel sambil menunjuk kulkas, Mama bisa mengatakan padanya “Adik mau makan buah? Atau mau minum jus?” sambil membuka kulkas. Biarkan ia mengambil apa yang dia inginkan, lalu beri tahu si Kecil apa yang ia ambil, “Ini buah apel, sini Mama kupas dulu, ya.”
3. Stimulasi Anak Usia 2 - 3 Tahun
Jika anak sudah menginjak usia 2-3 tahun dan perkembangan bahasa ingin dilatih sejak usia dini, tahapan yang bisa dilakukan adalah mengajaknya membaca buku bersama. Membacakan cerita kepada si Kecil sebanyak mungkin setiap harinya, ternyata terbukti dapat mendorong perkembangan bahasanya.
Hal tersebut didukung oleh sebuah
studi yang dimuat pada pada Journal of Literacy Research. Penelitian itu
menemukan bahwa anak-anak bisa memiliki kosakata yang lebih banyak bila
dibacakan buku cerita bergambar daripada mendengar ucapan orang dewasa.
Pada studi lainnya yang
dipublikasikan dalam Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics
mengungkapkan, membacakan satu buku tiap hari bisa membuat anak terpapar 1,4
juta kata lebih banyak dibandingkan anak-anak yang semasa kecilnya tidak pernah
dibacakan cerita.
Orang tua bisa memintanya untuk memilih
buku mana yang ingin dibacakan. Lalu, ajak ia ngobrol sejenak mengenai
gambar-gambar di dalam buku. Misalnya, “Lihat, Dik! Kudanya lari sangat
kencang. Lalu, di mana Si Kancil bersembunyi, ya?”
Interaksi yang menyenangkan ini bisa meningkatkan kemampuan sosial dan bahasa si Kecil serta membantunya memahami beragam hal ke depannya.
4. Stimulasi Anak Usia 3 - 4 Tahun
Perkembangan anak 3 tahun dari sisi
komunikasi ini membuat anak dapat menjawab pertanyaan yang dimulai dengan
siapa, apa, dan di mana. Jadi, orang tua dan si Kecil sudah bisa berdialog secara
bergantian. Pasti seru ya, bisa ngobrol banyak dengan si Kecil?
Nah, untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak usia dini, pancing anak bicara dengan memberinya pilihan sebagai tahapan awal. Pastikan pilihan yang Anda berikan sama baik dan bermanfaat. Misalkan, “Adik mau berenang atau main sepeda?” Pancing anak untuk memberi alasan dari pilihan yang dia tentukan.
5. Stimulasi Anak Usia 4 - 5 Tahun
Untuk membantu tahapan perkembangan bahasa di usia dini berjalan dengan baik, American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak-anak di atas usia 2 tahun tidak menonton layar televisi dan gadget lebih dari 1 jam per hari. Sebab, komunikasi yang dilakukan dengan gadget hanya satu arah, anak hanya mendengarkan tanpa berinteraksi dengan layar. Padahal, perkembangan bahasa anak perlu dilatih dengan interaktif.

Komentar
Posting Komentar